Senin, 13-Jul-2020

Minggu, 19/03/2017 Pendidikan 421 hits

Sosok Guru Yang Dirindukan

Profesi guru adalah profesi yang sangat mulia, meski sadar atau tidak penghargaan kepada profesi ini masih jauh panggang dari api, tapi sesunguhnya bukan itu permasalahannya. Kisah Guru Umar Bakri karya Iwan Fals yang melegenda, masih menjadi realita dari jaman dulu hingga saat ini. Terlepas guru tersebut Pegawai negeri sipil ataupun honorer. Meski sebagian masyarakat beranggapan kisah Umar Bakri "tampak" tidak berlaku lagi untuk sosok guru PNS. Karena "kisah hidup" guru honorer mungkin lebih "tampak" dibanding guru PNS. Seperti yang dilansir kompasnews.com, Cerita guru honorer, dari kisah periuk nasi hingga batal nikah (Jumat, 13 januri 2017), bentuk penghargaan kepada sosok guru masih jauh dari harapan, secara finansial pendapataan guru di Indonesia hanya berada diurutan ketiga puluh dari 30 negara yang menjadi anggota OECD (Organition for Economic Co-operation and Depelopment), Swiss adalah negara yang memberikan upah guru terbesar, yaitu US$ 68.820 pertahun atau sekitar Rp 837 juta (kurs: 12.176/US$) sementara indonesia rata-rata hanya US$ 2.830 atau sekiatr Rp 34,4 juta pertahun (liputan6.com)
Guru adalah sosok panutan "terkadang" melebihi sosok kedua orang tua dirumah,sehingga tidak dinapikan jika sosok guru adalah orang tua kedua setelah kedua orang tua bilogis kita. Guru adalah sosok digugu dan ditiru,dan tidak jarang karakter dan gaya seorang guru dicopy mentah- mentah oleh seorang siswa, dan menjadi style mereka ketika terjun ketengah-tengah masyarakat kelak (gaya mengajar penulis meng "copy" style mengajar sosok guru matematika waktu masa SLTA,Salam hormat untuk Bapak Miswan - Pendidik di SMAN 1 Palabuhanratu - Sukabumi).
Figur guru yang seolah-olah luput dari salah dan cela, sosok guru akan dianggap sosok yang sempurna sehingga ketika ada cela sedikit saja, maka hancurlah reputasi seorang guru. Guru bak "malaikat" turun dari langit yang harus serba bisa dan serba sempurna, tidak boleh salah apalagi tersangkut hukum. Guru akan dianggap berubah menjadi sosok "iblis" tanpa ampunan ketika jari manis guru menyentil telinga siswa karena telinga tersebut sudah tidak bisa menerima nasihat-nasihat spiritual sang guru, mulut guru akan "mengaum" mengeluarkan caci maki ketika ungkapan-ungkapan lembut dari mulut sang "malaikat" tak lagi digubris. Media masa akan serta merta menjadikan tag line berita,ketika seorang guru menampar siswanya, dan serta merta juga publik menjustice guru sebagai pelanggar ham berat melebihi pelanggaran perang, miris  dan pesimis bagaimana nasib profesi guru dimasa yang akan datang. Praduga tak bersalah hampir mentah jika dihadapkan dengan guru yang tersangkut "kasus", tidak ada kata wajar atau tanpa peduli untuk mencari tahu pangkal permasalahan apa yang terjadi sebelumnya. Kisaah guru Samhudi medio 2016 lalu masih menjadi kisah pilu tentang perjalanan seorang guru. Guru Samhudi dianggap melanggrar pasal 80 ayat 1 undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perbuatan atas UU nomor 23 tahun 2012 tentang perlindungan anak, yang menjadi pertanyaan adalah,apa kesalahan guru Samhudi sehingga harus disidangkan dimeja hijau? beliau mencubit siswanya karena siswa tersebut tidak ikut shalat dhuha berjamaah bersama teman-temannya. (kapanlagi.com)
Socrates, Konfusius,Ibnu sina, Albert Eistein, Andrea del Verrochio,  Noah Webster, adalah 6 guru paling berpengaruh sepanjang masa versi liputan6.com dan jika anda seorang guru, mungkin saja nanti akan tergores dalam literatur sejarah 7 guru paling berpengaruh sepanjang masa, 6 orang yang disebutkan sebelummnya dan yang ke 7 adalah nama anda, nothing is impossible dan impossible is nothing. Menjalani profesi seorang guru tidaklah semudah membalikan telapak tangan, selain keahlian akademis/intelektual yang harus mumpuni, tapi keahlian secara emosional dan spritual pun tidak kalah pentinnya (Ary Ginjar Agustin). Agar sesorang ahli secara akademik, 4 tahun mungkin dianggap cukup untuk mejadikan sesorang profesional dibidang akademis tapi untuk menjadikan seseorang capable secara emosional dan spritual butuh waktu dan proses yang tanpa batas. Bagi sesorang yang mau belajar dan menjadikan pengalaman sebagai pembelajaran, maka tidak menutup kemungkinan ia akan sampai ketitik matang secara emosional dan spiritual. uraian berikut ini adalah sebagian kecil dari pelajaran yang didapat penulis selama berprofesi sebagai seorang guru. tulisan ini terinspirasi oleh pertanyaan seorang guru muda yang pernah menjadi murid penulis beberapa tahun yang lalu (lusiana - Tasikmalaya)
Pertama, kita harus selalu berasumsi bahwa kita adalah siswa, loba tarahal (malas), beuki ulin (suka kelayapan), hayangna ngobrol bae (suka ngerumpi), seneng becanda adalah watak dasar manusia, biarkan semuanya mengalir apa adanya, jangan bebani mereka, biarkan mereka jadi mereka sendiri, jangan paksa mereka utuk menjadi kita karena kita adalah kita dan mereka adalah mereka, masing-masing dari kita mempunyai fase masing-masing. Tugas kita sederhana sekali, ingatkan mereka bahwa mereka juga akan tua serti kita, birkan mereka melihat kita dan biarkan mereka menemukan jawabnnya dimasa depan nanti.
Selanjutnya, adakalanya kita dihadapkan dengan kelas yang seperti pasar sayur mayur, hiruk piuk oleh obrolan ngalor ngudul, kelas yang sangat -sangat berisik. Kelas berisik karena kita belum sepenuhnya menjadikan kita guru yang mereka tunggu-tunggu, ketika kita masuk kelas seharusnya seisi kelas langsung diam, tapi bukan diam karena takut akan kehadiran kita, diam karena menunggu kejutan apa yang mau kita sampaikan didepan kelas, jadilah guru yang selalu berbeda dan hadirkan kejutan-kejutan kecil disetiap pertemuan. contoh sederhana, kita harus kepo (peka) terhadap hal-hal kecil, ulang tahun mereka, perasaan mereka, galau, senang,sedih, kita bisa mengintip perasaan mereka lewat media sosial. karen pada dasarnya kita adalah artis, suka diperhatiin dan paling suka jadi bahan perhatian.jadikan mereka sebagai bahan kefokusan kita, bukan kepelajaran yang mau kita sampaikan.
Kemudian, tidak sedikit "kenakalan-kenakalan" muncul karena sesungguhnya ruang mereka merasa dibatasi baik dirumah maupun disekolah, sementara pada dasarnya manusia adalah menginginkan kebebeasan dan tanpa kekang. artinya kita harus terlihat menjadi pribadi yang gaul atau update, karena seyogyanya mereka berada difase yang tidak suka dibatasi dan mau gaul, nah ketika mereka dibatasi dan tidak bisa gaul, maka mereka akan suka dan mengidola terhadap sosok "bebas dan terlihat gaul" yang akhirnya mereka akan mengidola kita, ketika kita sudah menjadi idola mereka, pelajaran matematika pun akan jadi menyenangkan buat mereka.
Dan guru harus ganteng dan cantik semestinya, tapi bukan berarti yang tidak ganteng dan tidak cantik tidak bisa menjadi guru, back to basic, mereka akan menilai sosok guru mulai dari penampilan fisik, cara berpakain, cara berbicara, siswa akan nyaman ketika berhadapan dengan sosok yang dianggap sempurna dan layak menajdi idola, mereka akan menunggu sosok yang dianggap idola dan layak dijadikan panutan sehingga apaun yang kita sampaikan, sulit atau mudah akan terasa menyenangkan bagi mereka, bisa jadi siswa akan tertarik belajar bahasa inggris ketika mereka nyaman dengan sipenyampainya dan mereka akan mulai suka dengan pelajaran yang selama ini dianggp sulit, pelan tapi pasti mereka akan mulai suka dan belajar bahasa ingrris secara sendirinya, terlepas nanti guru yang bersangkutan akan mengajar trus atau pun diganti oleh yang lainnya.
Diluaran sana banyak sekali literatur tentang bagaimana menjadi guru profesional, menarik dan menyenagkan bagi siswanya baik hasil karya dari pengalaman pribadi atau merupakan rujukan dari para akademisi profesional lainnya, namun seyogyanya inti permasalahnnya adalah bagaimana menjadi sosok guru yang ditunggu dan dirindukan itu lebih penting dibanding hanya soal gelar akademis seorang guru atau hanya sekedar lulusan dari reputable university, karena menjadi sosok guru yang dirindukan tidak bisa tercipta secara instan  butuh waktu dan serta proses yang panjang.

: tanpa label

JAJAK PENDAPAT

Informasi yang disajikan dalam situs ini menurut Anda ?